Secangkir Kopi di Kafe LUNA
Judul Buku: COFFEE AT LUNA’S
Penulis: Chuck Martin
Penerbit: B-First
Cetakan: Pertama, Desember 2008
Tebal: 135 halaman
Sudah enam bulan Bill Taylor bekerja di UniShare Technologies Inc.
Sebelumnya,ia menghabiskan empat tahun di satu perusahaan perangkat lunak yang lebih kecil,
dan tiga tahun di sebuah firma konsultan komputer.
Di UniShare, lembur bagaikan makanan sehari-hari bagi Bill.
Ia bekerja sepuluh jam per hari dan hanya sedikit waktu untuk kehidupanpribadi.
Bill pun mulai merasa tertekan.
Rasa tertekannya semakin mendaki ketika pada suatu Jumat, di tengah hari yang dingin dan bersalju,
Ted Hopkins, pimpinannya,mengajak Bill berbicara.
Baru beberapa kata dilontarkan oleh Hopkins, Bill sudah bersikap defensif.
“Saya bekerja lebih dari enam puluh jam seminggu!” ujarnya. “Saya bahkan siap dihubungi saat liburan.”
Hari Senin pekan berikutnya ia datang kekantor masih dengan rasa kesal pada atasannya.
Ia merasa kerja kerasnya di perusahaan ini tidak dihargai sama sekali.
Ia merasa Hopkins tengah mencari-cari kesalahan dan kekurangannya.
Namun, yang disampaikan Hopkins pagi itu malah sebaliknya.
Alih-alih mencari kesalahan, ia justru menantang Bill untuk menjabat posisi lebih tinggi.
Bagi Bill, promosi adalah berita menggembirakan.
Tapi itu hanya sementara,
hingga ia menemui kenyataan bahwa karyawan di unit bisnis yang diserahkan kepadanya
ternyata dalam keadaan kacau.
Semangat karyawannya lemah.
Orang-orang kunci yang ia warisi terlihat asyik sendiri-sendiri.
Biarpun ia sudah bekerja keras,begitu pula orang-orang lama di unit ini,
pada bulan ketiga target yang ditetapkan perusahaan masih jauh dari jangkauan.
“Apa yang salah?”
Itulah pertanyaan Bill pada dirinya sendiri, seperti juga yang diajukan oleh kebanyakan manajer.
Semua upaya rasanya sudah ditempuh, jam kerja bahkan melebihi yang ditetapkan.
Apa lagi?
Lewat tokoh Guru,Chuck Martin—penulis buku ini, yang juga CEO NFI Research
dan mantan wakil komisaris IBM—menawarkan resep tiga langkah untuk keluar dari situasi genting itu.
Langkah pertama untuk memperbaiki keadaan sekitar Anda ialah dengan memahami apa yang sedang terjadi.
“Caranya: berhenti,amati, dan dengarkan,” ujar tokoh Guru kepadaBill.
Betapa sering para manajer bingung untuk keluar dari situasi kacau karena langsung tenggelam dalam pekerjaan yang seakan tak pernah habis.
Bagaikan masuk pusaran pasir,semakin tenggelam dalam kerja,
semakin sukar bagi manajer untuk mengatasi situasi.
Tokoh Guru mula-mula mengajak Bill untuk minum kopi di kafe Luna.
Bill sempat jengah,di tengah kesibukan yang demikian padat ada orang yang mengajak minum kopi. Tapi karena Guru adalah orang kiriman kantor pusat, ia mengikuti saja ajakan itu. Saat itulah, Bill mulai mengambil jeda—berhenti sejenak dari rutinitas.
Jeda bukan berarti bengong.
Guru menyarankan pada Bill agar mengamati sekeliling dan mengajak ngobrol bawahannya.
Mula-mula tiga manajer kunci yang agak ogah-ogahan bekerja bersama Bill.
Dari obrolan ini, Bill tahu bahwa ketiganya menyimpan persoalanyang berbeda-beda.
Dengan mengobrol, ia mengetahui apa yang terjadi di perusahaan.
Tak cukup sekadar memiliki pengetahuan,Bill harus bertindak untuk mengubah keadaan.
Inilah langkah kedua yang disarankan Guru.
Bill mengurangi beban kerja salah seorang manajer
dan memberi kesempatan kepada bawahannya untuk menangani sebagian beban itu.
Ia juga menawarkan tantangan baru kepada manajer yang merasa punya kemampuan lebih.
Bill pun mengizinkan manajer ketiga untuk fleksibel mengatur jam kerjanya karena anaknya menderita sakit leukemia dan secara teratur harus menjalani kemoterapi.
Berbekal pengetahuan dan tekad yang kuat,pelan-pelan Bill mampu mengubah keadaan,mula-mula dirinya sendiri,
lalu ketiga orangkunci yang membantunya.
Agar seluruh karyawan perusahaan bergerak seirama, dibutuhkanlangkah ketiga yang amat penting, yakni
berbagi(sharing).
Tak seorang pun dapat mencari tahu dan memperbaiki semua hal jika ia hanya seorangdiri.
Terlalu banyak yang harus diperbaiki.
Setelah Bill sering diajak minum kopi oleh Sang Guru,
kini giliran Bill mengajak ketiga manajernya untuk minum kopi di kafe Luna.
Ia memantik ketiganya agar berbagi kepada tim masing-masing agar berubah,
seperti ia dipantik oleh Sang Guru agar berubah, dan ia memantik ketiganya agar berubah.
Jika orang mau saling berbagi, lingkungan kerja menjadi lebih terbuka.
Cerita berakhir dengan happy ending:
Bill bukan hanya sukses mengelola unit bisnis yang dipercayakan kepadanya,
tapi juga sukses menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi dan keluarganya.
Ia punya waktu untuk menjemput anak lelakinya dari sekolah, menemaninya membuat PR, dan mengurangi tugas istrinya agar bisa mengikuti les melukis.
Ada banyak ragam buku manajemen, dari buku yang berat dan sarat teori ala PhilipKotler, Michael Porter, atau W. Chan Kim dengan Blue Ocean Strategy-nya, sampai yangmengambil format how-to yang praktis dan memuat panduan langkah demi langkah sepertiJörg W. Knoblauch dengan Where is Your Lighthouse?-nya. Itu kelaziman.
Chuck Martin mengambil gaya yang sama sekali berbeda.
Dalam buku ini, ia mengisahkan persoalan manajemen yang lazim ditemui dengan cara bercerita bak fiksi.
Lewat tokoh Bill, Guru, Stephanie, Michael, dan Ronald,Martin bercerita secara sederhana perihal bagaimana keluar dari persoalan bisnis yang kompleks. Yang ia sarankan bukanlah hal besar yang akan merombak seluruh divisi atauperusahaan.
“Ini lebih menyerupai ribuan tindakan kecil yang berdampak besar,” kata Martin lewat tokoh Guru.
Lewat gaya becerita bak fiksi, Martin menyampaikan pesan yang jelas, menarik, dan bermanfaat.
Buku ini relatif tipis dengan huruf relatif besar,
tapi bukan ini yang membuat kita membacanya sekali langsung habis,
melainkan karena cerita Martin membuat kita sulit berhenti.
Ini memang dongeng bisnis yang menarikdan bermanfaat, bukan hanya untuk kehidupan kerja,
tapi juga untuk kehidupan pribadi.
DIAN R. BASUKI
isi tulisan ini diambil dari ruang baca tempo interaktif yang bisa anda lihat di :
http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?dok ... &uniq=ODAz

